Rabu, 08 Desember 2010

Hidup dalam Pengaruh Musik


Pernahkah Anda berpikir bahwa musik dapat membawa pengaruh yang besar sekali dalam kehidupan seseorang. Sebuah penelitian membuktikan bahwa musik tertentu dapat meningkatkan pertumbuhan sel otak bayi. Penelitian yang lain juga mengatakan bahwa komposisi musik tertentu dapat meningkatkan aktivitas sel otak bagian tertentu, sehingga dapat meningkatkan kecerdasan seseorang.

Tapi lepas dari itu semua, saya telah mencoba mengadakan penelitian kecil-kecilan - tentang hubungan karakter seseorang berkaitan dengan musik yang digemarinya dan yang sering didengarnya - yang hasilnya saya kumpulkan sejak tahun 2000 hingga sekarang, melibatkan ratusan anak-anak usia SMA (dari masa ke masa), dan hasilnya cukup mengejutkan. Bahwasanya, kesimpulan yang saya tarik untuk sementara ini, ternyata hampir 80 % karakter yang terbentuk dalam diri seseorang itu dipengaruhi oleh musik yang didengarnya…

Dan inilah hasil sementara…
  1. Pendengar musik Klasik dan Jazz memiliki karakter yang keras, kemauan yang kuat, dan seringkali memberikan improvisasi dalam langkah-langkah yang diambilnya, yang terkadang susah untuk dipahami, tapi memberikan hasil akhir yang positif dan bisa dipertanggung-jawabkan.
  2. Pendengar musik Rock, Grunge, dan Sejenisnya,memiliki karakter yang keras dan tidak terarah, bertindak semuanya sendiri, dan seringkali tidak memperhatikan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Tindakan-tindakan yang dilakukannya seringkali hanya berdasarkan pikiran yang terlintas sekilas lalu saja, sehingga jarang sekali mereka memikirkan akibat yang akan dihasilkannya. Ditinjau dari sisi positifnya, sebenarnya mereka adalah orang-orang yang memiliki keberanian yang sangat luar biasa, sehingga seringkali dianggap nekat.
  3. Pendengar musik Pop, Slow Rock, dan sejenisnya, memiliki karakter yang datar-datar saja. Bahkan dalam tingkatan tertentu, mereka adalah orang-orang yang takut pada perubahan yang drastis.
  4. Pendengar musik Keroncong, Langgam, dan sejenisnya, memiliki karakter yang lebih banyak pasrah pada nasib dan kehidupan. Mereka lebih merasa nrimo dengan apa yang sudah mereka miliki. Hampir semua responden penggemar musik ini jarang sekali saya temui dalam keadaan frustrasi atau mengeluhkan keadaan hidupnya, mereka selalu terlihat tersenyum menantang hidup…

Nah, dari hasil yang saya dapatkan, maka hati-hatilah dengan musik yang Anda dengar…
Percaya atau tidak,semuanya terserah Anda…………..

Minggu, 05 Desember 2010

Pembeli Istimewa

Pengemis

Pada suatu hari, ketika Jepang belum semakmur sekarang, datanglah seorang peminta-minta ke sebuah toko kue yang mewah dan bergengsi untuk membeli manju (kue Jepang yang terbuat dari kacang hijau dan berisi selai). Bukan main terkejutnya si pelayan melihat pelanggan yang begitu jauh sederhana di tokonya yang mewah dan bergengsi itu. Karena itu dengan terburu-buru ia membungkus manju itu. Tapi belum lagi ia sempat menyerahkan manju itu kepada si pengemis, muncullah si pemilik toko berseru, “Tunggu, biarkan saya yang menyerahkannya”. Seraya berkata begitu, diserahkannya bungkusan itu kepada si pengemis.

Si pengemis memberikan pembayarannya. Sembari menerima pembayaran dari tangan si pengemis, ia membungkuk hormat dan berkata, “Terima kasih atas kunjungan anda!”.

Setelah si pengemis berlalu, si pelayan bertanya pada si pemilik toko, “Mengapa harus anda sendiri yang menyerahkan kue itu? Anda sendiri belum pernah melakukan hal itu pada pelanggan mana pun. Selama ini saya dan kasirlah yang melayani pembeli”.

Si pemilik toko itu berkata, “Saya mengerti mengapa kau heran. Semestinya kita bergembira dan bersyukur atas kedatangan pelanggan istimewa tadi. Aku ingin langsung menyatakan terima kasih. Bukankah yang selalu datang adalah pelanggan biasa, namun kali ini lain.”

“Mengapa lain,” tanya pelayan.

“Hampir semua dari pelanggan kita adalah orang kaya. Bagi mereka, membeli kue di tempat kita sudah merupakan hal biasa. Tapi orang tadi pasti sudah begitu merindukan manju kita sehingga mungkin ia sudah berkorban demi mendapatkan manju itu. Saya tahu, manju itu sangat panting baginya. Karena itu saya memutuskan ia layak dilayani oleh pemilik toko sendiri. Itulah mengapa aku melayaninya”, demikian penjelasan sang pemilik toko.

***
Konosuke Matsushita, pemilik perusahaan Matsushita Electric yang terkemuka itu, menutup cerita tadi dengan renungan bahwa setiap pelanggan berhak mendapatkan penghargaan yang sama. Nilai seorang pelanggan bukanlah ditentukan oleh prestise pribadinya atau besarnya pesanan yang dilakukan. Seorang usahawan sejati mendapatkan sukacita dan di sinilah ia harus meletakkan nilainya.

(Dikutip dari artikel, Konosuke Matsushita, Food For Thought)

Sabtu, 04 Desember 2010

PUNCAK PERANCIS

Puncak Perancis

Inilah Potret Desa, dimana saya memijak bumi dan menjunjung langit saat ini. Memang, tak ada kata yang cocok untuk diucapkan tentang tempat ini. Tanah kering, air pun sulit dijangkau, namun disinilah para penduduk mematuki batu-batu untuk sekedar mendapatkan seikat sayur dan seonggok ubi.

Sungguh ironis jika banyak orang mengatakan bahwa Kalimantan Timur merupakan Propinsi yang kaya. Dimana banyak perusahaan menggali tambang batu bara, sedangkan kenyataannya banyak rakyatnya yang miskin, tinggal digubug-gubug dengan atap dari jalinan nipah atau ilalang. Banyak perusahaan besar menghisap minyak bumi, tetapi rakyat mengeluh, tidak ada bensin untuk motor dan genset mereka.

Puncak ini, dimana saya mengambil foto ini, rupanya juga menjadi tempat yang cukup ironis. Dengan indah, para muda-mudi menyebutnya sebagai PUNCAK PERANCIS, karena, -katanya- puncak ini memiliki keindahan 10 kali lipat dibanding tempat-tempat wisata di Eropa, bahkan memiliki pesona yang eksotik 2 kali lipat dari menara Eiffel. Kenapa? karena hanya tempat inilah yang dapat mereka jangkau untuk memadu kasih, mengucapkan janji setia, atau nge-gombal sambil meraba.

Memang, dengan akal sehat pun, saya 200% setuju dengan ungkapan mereka, karena memang tidak sedikit para anak muda disini yang tidak bisa / tidak mau menjangkau tempat lain. Dan oleh karena alasan itulah, maka tempat ini menjadi tempat yang paling banyak diminati. Entah mereka sekedar berjalan-jalan sambil bercanda, atau bercengkrama mesra sambil meraba, atau bahkan yang lebih dari pada itu.

Bukan menjadi rahasia lagi akan hal itu. Karena memang demikianlah budaya masyarakat asli disini. Dan menurut Anda, baik atau buruk... Saya tetap mencintai Desa ini, walaupun sepi menyelimuti.... karena hanya sepi yang mampu menghisap dendam dan sakit hati...